PEKANBARU – Anggota Komisi VII DPR RI Hendry Munief menilai Provinsi Riau memiliki potensi besar dalam pengembangan pendidikan vokasi karena ditopang banyak sektor industri yang beroperasi di wilayah tersebut.
Karena itu, ia mendorong pemerintah memperkuat dukungan terhadap pendidikan vokasi melalui beasiswa hingga pemanfaatan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan industri.
Dalam keterangan resminya, Ahad (24/5/2026), Hendry mengatakan keberadaan industri di Riau harus disinergikan dengan dunia pendidikan untuk menciptakan sumber daya manusia (SDM) unggul dan siap kerja.
“Riau punya basis industri yang kuat. Ini harus disinergikan dengan dunia pendidikan vokasi agar menciptakan SDM unggul,” ujarnya.
Menurut Hendry, pendidikan vokasi memiliki peran strategis dalam mencetak tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan industri. Namun, ia menilai perhatian terhadap pendidikan vokasi belakangan mulai berkurang, terutama terkait dukungan beasiswa bagi mahasiswa vokasi.
Ia mencontohkan saat melakukan kunjungan ke Akademi Komunitas Tekstil Solo beberapa waktu lalu, bantuan beasiswa untuk mahasiswa disebut sudah tidak lagi tersedia.
“Saat melakukan kunjungan ke Akademi Komunitas Tekstil Solo beberapa hari lalu ternyata beasiswa mahasiswa sudah tidak ada lagi. Pendidikan vokasi harus menjadi prioritas karena langsung menjawab kebutuhan industri. Dukungan beasiswa dan fasilitas belajar menjadi kunci,” katanya.
Hendry juga meminta pemerintah memperkuat program bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) dan Program Indonesia Pintar (PIP) untuk siswa dan mahasiswa jalur vokasi.
Menurutnya, langkah tersebut penting untuk meningkatkan minat generasi muda memilih pendidikan berbasis keterampilan.
Selain dukungan pemerintah, Hendry turut mendorong Kementerian Perindustrian mengarahkan program CSR perusahaan industri agar lebih fokus membantu pendidikan vokasi. Dukungan itu dapat berupa bantuan alat praktik, beasiswa, hingga jaminan kerja bagi lulusan.
“CSR industri jangan hanya fokus pada kegiatan sosial umum, tetapi juga harus menyentuh pendidikan vokasi melalui bantuan alat, beasiswa, dan bahkan jaminan kerja,” tegasnya.
Ia menambahkan, penguatan pendidikan vokasi menjadi langkah strategis untuk meningkatkan daya saing tenaga kerja Indonesia di tengah persaingan global.
Kolaborasi antara pemerintah, dunia industri, dan lembaga pendidikan dinilai menjadi kunci membangun ekosistem pendidikan vokasi yang berkelanjutan.**
sumber: CAKAPLAH



