Angka Kelahiran Riau Melandai, Ketimpangan Layanan Antar Daerah Masih Lebar

PEKANBARU – Pola demografi di Provinsi Riau mengalami pergeseran signifikan seiring dengan tren penurunan angka kelahiran total yang kini mulai mendekati tingkat penggantian penduduk (replacement level). Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan angka kelahiran total atau Total Fertility Rate (TFR) di Bumi Lancang Kuning menyentuh poin 2,21, melandai dibandingkan periode sensus sebelumnya.

Kepala BPS Riau Asep Riyadi menjelaskan bahwa meski grafik fertilitas terus menurun sejak satu dekade terakhir, dinamika saat ini menunjukkan fenomena menarik terkait usia ibu saat melahirkan. Terjadi penurunan drastis pada kelompok usia remaja, namun di sisi lain muncul kecenderungan warga untuk menunda kelahiran hingga usia matang.

“Data menunjukkan adanya pergeseran pola. Kelahiran pada kelompok umur 15 hingga 19 tahun merosot tajam dari 43,90 pada tahun 2010 menjadi hanya 11,08 per 1.000 perempuan pada 2025. Namun, angka kelahiran pada rentang usia 30 hingga 44 tahun justru menunjukkan kenaikan,” ujar Asep Riyadi di Pekanbaru, Rabu (6/5/2026).

Puncak masa subur perempuan di Riau saat ini tetap berada pada kelompok usia 25-29 tahun. Tren menunda kehamilan ini disinyalir berkaitan erat dengan peningkatan akses pendidikan, kesadaran kesehatan reproduksi, serta partisipasi ekonomi perempuan di sektor publik.

Data SUPAS 2025 juga mengungkap adanya jurang perbedaan fertilitas dan kualitas kesehatan anak yang cukup lebar antar-kabupaten dan kota. Kota Pekanbaru mencatatkan angka kelahiran terendah sebesar 2,04, yang berarti secara rata-rata setiap perempuan di ibu kota provinsi hanya memiliki dua anak. Kondisi ini kontras dengan Kabupaten Bengkalis yang masih mencatatkan angka tertinggi di level 2,53.

Kesenjangan serupa juga terlihat pada indikator kesehatan melalui Angka Kematian Bayi (IMR). Secara umum, Iiau berhasil menekan kematian bayi menjadi 13,28 per 1.000 kelahiran hidup. Namun, Kabupaten Kepulauan Meranti masih menghadapi tantangan besar dengan tingkat kematian bayi mencapai 18,68, berbanding jauh dengan Pekanbaru yang hanya berada di angka 10,00.

“Perbedaan ini merupakan cerminan dari variasi akses layanan kesehatan, kondisi sosial ekonomi, hingga faktor budaya lokal di masing-masing daerah,” tambah Asep Riyadi.

Kendali Penduduk

Sejalan dengan melandainya angka kelahiran, penggunaan alat kontrasepsi di Riau kini telah menjangkau lebih dari separuh pasangan usia subur. Angka prevalensi kontrasepsi atau Contraceptive Prevalence Rate (CPR) tercatat berada di level 57,46 persen.

Penurunan fertilitas ini juga diikuti oleh penurunan Angka Kelahiran Kasar (CBR) yang kini berada di posisi 17,42 per 1.000 penduduk. Sementara itu, Angka Kematian Kasar (CDR) bertahan di level rendah, yakni 4,58.

Statistik ini diharapkan menjadi basis bagi Pemerintah Provinsi Riau dalam merancang kebijakan pembangunan manusia yang lebih presisi, terutama dalam upaya pemerataan fasilitas kesehatan di wilayah pesisir dan kepulauan guna menghapus disparitas antarwilayah.

Data Statistik Vital Riau (SUPAS 2025):

Total Fertility Rate (TFR): 2,21

Crude Birth Rate (CBR): 17,42 per 1.000 penduduk

Crude Death Rate (CDR): 4,58 per 1.000 penduduk

Infant Mortality Rate (IMR): 13,28 per 1.000 kelahiran hidup

Contraceptive Prevalence Rate (CPR): 57,46%

Wilayah TFR Terendah: Kota Pekanbaru (2,04)

Wilayah TFR Tertinggi: Kabupaten Bengkalis (2,53)

Wilayah IMR Tertinggi: Kabupaten Kepulauan Meranti (18,68). **

 

sumber: RIAUIN.COM